STAI Mathali’ul Falah (STAIMAFA) Pati memiliki visi menjadi perguruan tinggi riset berbasis nilai-nilai pesantren pada tahun 2025. Demi mewujudkan visi tersebut, beragam usaha terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) semester I beberapa waktu yang lalu. Di mana saat itu, mahasiswa PBA STAIMAFA didampingi oleh Bapak Ali Romdloni, MA selaku pengampu matakuliah Bahasa Indonesia, serta Bapak Ali Subhan, MA selaku ketua Prodi PBA, melakukan kunjungan dalam rangka penelitian terhadap batik Bakaran Juwana.
Penelitian yang dilakukan mahasiswa PBA STAIMAFA ini bertujuan untuk menemu-kenali potensi batik Pati yang di Desa Bakaran, Juwana. Tepatnya di  Perusahaan Batik Sekar Arum, Bakaran Kulon. Melihat letak geografisnya, Bakaran termasuk wilayah pesisir, namun berbeda dengan batik pesisiran pada umumnya yang cenderung berwarna terang, Batik Bakaran yang asli justru berwarna klasik, yaitu putih, hitam, dan coklat. Di mana warna-warna ini mencerminkan karakter masyarakat Bakaran yang tegas dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan. Meskipun dalam perkembangannya, Batik Bakaran juga mulai mengadopsi warna-warna terang seperti hijau, kuning, maupun merah.
Batik Bakaran memiliki beragam motif, misalnya motif Blebak Kopi, Kopi Pecah, Gringsing, Limaran, dan lain-lain. Yang perlembarnya memakan waktu pengerjaan empat hari hingga lebih dari sebulan, dan dikerjakan oleh 3-4 perajin. Sedangkan mengenai harga, Batik Bakaran berkisar antara 300 ribu hingga jutaan rupiah. Harga yang cukup tinggi ini tentu sepadan dengan nilai budaya, corak khas, serta kualitas yang ditawarkan.
Dalam kunjungan ini juga terungkap bahwa pada tahun-tahun yang lalu, Batik Bakaran pernah hampir mengalami kepunahan karena kelesuan ekonomi dan keterbatasan modal perajin batik. Namun kemudian Batik Bakaran kembali bergairah didukung dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Pati pada tahun 2007 yang mewajibkan PNS di lingkungan Kabupaten Pati untuk memakai batik setiap hari Jum`at. Kita tentu harus mengapresiasi kebijakan yang kembali “menghidupkan” Batik Bakaran ini, di mana salah satu wujud apresiasi nyata yang bisa kita lakukan ialah turut dengan bangga mengenakan Batik Bakaran ini. Batik milik Kabupaten Pati.
Share To:

Post A Comment: